Bencana banjir merendam sejumlah kecamatan di Kabupaten Malinau sejak Rabu (18/3) kemarin. Tingginya debit air membuat aktivitas masyarakat terhambat dan akses transportasi darat lumpuh total.
sejumlah titik di Kecamatan Malinau Kota dan Malinau Seberang tergenang air dengan ketinggian bervariasi, mulai dari setinggi betis hingga paha orang dewasa.
Genangan air tak hanya melumpuhkan perputaran roda ekonomi, tetapi juga memutus akses warga yang ingin bepergian antar-kecamatan. Banyak warga bahkan terpaksa meninggalkan kendaraan mereka di area dataran tinggi agar tak terendam.
Kondisi ini membuat sejumlah warga yang hendak bepergian atau mudik tertahan. Yovana, seorang mahasiswi Tarakan yang hendak pulang ke Desa Pulau Sapi, terpaksa mengurungkan niatnya karena jalanan terputus oleh tingginya debit air.
“Saya sudah coba lewat sejumlah akses, tapi terhalang oleh air. Malahan saya terjebak banjir. Kalau nekat ya akan ada risikonya, knalpot kemasukan air, tentu akan keluar ongkos. Barulah kita ini tidak ada uang kalau harus masuk bengkel,” ungkap Yovana kepada detikKalimantan, Kamis (19/3/2026).
Lumpuhnya akses darat juga dirasakan oleh Romel, seorang pekerja yang hendak pulang ke rumahnya di Malinau Seberang. Sopir travel yang ditumpanginya menolak menerobos banjir lantaran takut mesin mobil mati. Alhasil, Romel harus dievakuasi menggunakan perahu kayu untuk mengangkut barang bawaannya.

