Ruang public diisi “affected conflict”. Perang bermodalitas “perasaan” alias sentiment. Ga ada ruang bagi logic, rasionalitas, dan fact-based opinion.
Indonesia terjepit. Kelompok anti pemerintah makin berani unjuk-gigi. Rusia, China, dan Brics ogah campur tangan urusan domestik. Perang Iran meletus. Foreign policy America semakin kraz & brutal. Ancaman nyata bagi negara-negara Selatan.
Presiden Prabowo Subianto liat itu. Amerika terlalu kuat. Bukan lawan sebanding. Tapi potensi ancaman ini harus dinetralisir. Supaya Indonesia ngga dedel-duwel ga karuwan.
Sun Tzu’s The Art of War mengajarkan tactics “Embracing your opponent/rival” yang merupakan high-level strategic and psychological tactic designed to neutralize threats, gather intelligence, and gain a competitive advantage by drawing adversaries closer.
Presiden Prabowo ngerti; Konfrontasi dengan Amerika adalah seperti yang dikatakan pepatah Tiongkok “以卵击石” (yǐ luǎn jī shí) artinya “throwing an egg against a rock”.
Bahkan Rusia & Tiongkok ragu berkonfrontasi langsung dengan Amerika. Sekali pun kemajuan militer Tiongkok luar biasa & tidak perna ada sebelumnya namun kekuatan Amerika masi berat untuk dilawan.
Radar, satelit, dan Kapal Penditeksi dini Liaowang Tiongkok di sekitar Iran ga sanggup menangkis serangan Amerika-Israel.
Amerika satu-satunya negara yang punya kemampuan nge-jamming perangkat elektronik apa saja dan di mana saja. Amerika bisa nge-jamm & ambil-alih your smart car & menabrakannya ke pohon. Amerika juga bisa mendengar obrolan di ruang tamu dengan nge-jamm televisi sekalipun dalam kondisi mati.
Kemampuan nge-jam membutakan komunikasi Iran. Makanya serangan non-stop berlangsung tanpa hambatan. Bahkan bomber zadul B-52 Stratofortress non-siluman & low speed berani diturunkan dengan santai. Artinya Radar & Arhanud Iran lumpuh.
Amerika sedang klotokan. Setelah Maduro dicomot, Trump minta perusahaan minyak kembali masuk Venezuela. Responnya negatif. Perusahaan minyak alami kerugian besar sewaktu kilang-kilang dinasionalisasi Hugo Chavez. Bangun infrastrukur baru biayanya selangit. Trump ga sanggup yakinkan long-term safety.
Mata Trump dialihkan ke Iran, produsen minyak terbesar ketiga setelah Venezuela & Arab Saudi. Teori sama dipake: Ganti Rezim.
Sekali tepok beberapa obyektif bisa diperoleh. Ganti Rezim Iran artinya memperlambat Tiongkok, menyelamatkan Middle East & dunia dari bully ancaman nuklir Iran, stop aliran modal ke teroris dan Amerika kembali menguasai minyak Iran & Selat Hormuz.
Maka itu Amerika tidak membombardir kilang-kilang minyak Iran. Sehingga bisa terhindar dari ongkos bangun infrastruktur seperti di Venezuela. Tapi kemudian Israel membumi-hanguskan 30 kilang minyak Iran. Trump agak gusar.
Perilaku hegemonic Trump sudah diprediksi Presiden Prabowo. Dia ngerti alasan & dampak foreign policy keras Trump.
Maka tactical empathy yang diciptakan FBI negotiator Chris Voss bisa dilakukan i.e. by recognizing the emotions and perspectives Amerika, Presiden Prabowo bisa build rapport & menaikan pengaruh tanpa harus sepenuhnya tunduk & berkonfrontasi langsung dengan Amerika.
Sekaligus Neutralizing Conflict. Presiden Prabowo sukses mengkooptasi or memindahkan Amerika ke posisi “less of a threat” bagi Indonesia. Pendekatan ini dipraktekan Presiden Lyndon B. Johnson.
Bayangkan bila dampak Perang Iran dikapitalisasi kelompok anti pemerintah & disupport oleh Trump. Apa jadinya negeri ini. Untung ada Presiden Prabowo.
Pesan kepada Kelompok Kudeta, tunggu pembalasan dari legitimate government setelah badai perang timur-tengah ini selesai. Janganlah selalu haus kekuasaan hingga tak peduli harga darah yang harus tumpah demi nafsu kalian.
THE END
